Minggu, 01 April 2012

TUGAS IBD

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Budaya tercipta atau terwujud merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan segala isi yang ada di alam raya ini. Manusia di ciptakan oleh tuhan dengan dibekali oleh akal pikiran sehingga mampu untuk berkarya di muka bumi ini dan secara hakikatnya menjadi khalifah di muka bumi ini.  Disamping itu manusia juga memiliki akal, intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan, fantasi dan perilaku.  Dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka manusia bisa menciptakan kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan.
 Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan  manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendudukungnya.
Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia. Hasil karya manusia  menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai
1.      Suatu hubungan pedoman antarmanusia atau kelompoknya
2.      Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain.
3.      Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia
4.      Pembeda manusia dan binatang
5   Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berprilaku didalam pergaulan.
6.      Pengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat dan menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain.
7.      Sebagai modal dasar pembangunan.
Pengaruh Budaya Terhadap Lingkungan
Budaya yang dikembangkan oleh manusia akan berimplikasi pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang. Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari masyarakatnya yang tampak dari luar. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap lingkungan seseorang dapat mengetahui, mengapa suatulingkungan tertentu akan berbeda dengan lingkungan lainnya dan mengasilkan kebudayaan yang berbeda pula.
Beberapa variabel yang berhubungan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan:
  1. Phisical Environment yaitu lingkungan fisik menunjuk kepada lingkungan natural seperti flora, fauna, iklim dan sebagainya.
  2. Cultural Social Environment, meliputi aspek-aspek kebudayaan beserta proses sosialisanya seperti : norma-norma, adat istiadat dan nilai-nilai.
  3. Environmental Orientation and Representation, mengacu pada persepsi dan kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat mengenai lingkungannya.
  4. Environmental Behaviordan and Process, meliputi bagaimana masyarakat menggunakan lingkungan dalam hubungan sosial.
  5. Out Carries Produc, Meliputi hasil tindakan manusia seperti membangun rumah, komunitas dan sebagainya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan yang berlaku dan dikembangkan dalam lingkungan tertentu berimplikasi terhadap pola tata laku, norma, nilai dan aspek kehidupan lainnya yang menjadi ciri khas suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
 Proses Dan Perkembangan Kebudayaan
Kebudayaan adalah hasil cipta, karsa dan rasa manusia oleh karenanya kebudayaan mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perkembangan manusia itu. Perkembangan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan manusia itu sendiri, karena kebudayaan diciptakan oleh dan untuk manusia.
Kebudayaan yang dimiliki suatu kelompok sosial tidak akan terhindar dari pengaruh kebudayaan kelompok-kelompok lain dengan adanya kontak-kontak antar kelompok atau melaui proses difusi. Suatu kelompok sosial akan mengadopsi suatu kebudayaan tertentu bilamana kebudayaan tersebut berguna untuk mengatasi atau memenuhi tuntunan yang dihadapinya.
Pengadopsian suatu kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor lingkungan fisik. Misalnya iklim topografi sumber daya alam dan sejenisnya. Dari waktu ke waktu, kebudayaan berkembang seiring dengan majunya teknologi (dalamhal ini adalah sistem telekomunikasi) yang sangat berperan dalam kehiduapan setiap manusia.
Perkembangan zaman mendorong terjadinya perubahan-perubahan disegala bidang, termasuk dalam kebudayaan. Mau tidak mau kebudayaan yang dianut suatu kelompok sosial akan bergeser. Suatu kelompok dalam kelompok sosialbisa saja menginginkan adanya perubahan dalam kebudayaan yang mereka anut, dengan alasan sudah tidak sesuai lagi dengan zaman yang mereka hadapi saat ini. Namun, perubahan kebudayaan ini kadang kala disalah artikan menjadi suatu penyimpangan kebudayaan.
Hal yang terpenting dalam proses pengembangan kebudayaan adalah dengan adanya kontrol atau kendali terhadap prilaku reguler (yang tampak) yang ditampilkan oleh para penganut kebudayaan. Karena tidak jarang perilaku yang ditampilkan sengat bertolak belakang dengan budaya yang dianut didalam kelompok sosial yang ada di masyarakat. Sekali lagi yang diperlukan adalah kontrol / kendali sosial yang ada di masyarakat sehingga dapat memilah-milah mana kebudayaan yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.
 Problematika Kebudayaan
Seiring dengan perkembangannya, kebudayaan juga mengalami beberapa problematika atau masalah masalah yang cukup jelas yaitu :
  1. Hambatan budaya yang ada kaitannya dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan.
  2. Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan sudut pandang atau persepsi.
  3. hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan.
  4. Masyarakat terpencil atau terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat lainnya.
  5. Sikap Tradisionalisme yang berprasangaka buruk terhadap hal-hal yang baru
  6. Mengagung-agungkan kebudayaan suku bangsanya sendiri dan melecehkan budaya suku bangsa lainnya atau lebih dikenal dengan paham Etnosentrisme.
  7. Perkembangan Iptek sebagai hasil dari kebudayaan.
 Perubahan Kebudayaan
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kebudayaan mengalami perkembangan (dinamis) sesuai dengan perkembangan manusia itu sendiri, oleh sebab itu tidak ada kebudayaan yang bersifat statis. Dengan demikian, kebudayaan akan mengalami perubahan. Adalima penyebab terjadi perubahan kebudayaan yaitu:
  1. Perubahan lingkungan alam
  2. Perubahan yang disebabkan adanya kontak dengan kelompok lain
  3. Perubahan karena adanya penemuan (discovery)
  4. Perubahan yang terjadi karena suatu masyarakat atau bangsa mengadopsi beberapa elemen kebudayaan material yang telah dikembangkan oleh bangsa lain ditempat lain.
  5. Perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsisuatu pengetahuan atau kepercayaan baru atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas.
Namun, perubahan kebudayaan sebagai hasil cipta, karsa dan rasa manusia adalah tentu saja perubahan yang memberi nilai manfaat bagi manusia dan kemanusian, bukan sebaliknya yaitu yang akan memusnakan manusia sebagai pencipta kebudayaan tersebut.
           
MANUSIA DAN KESUSASTRAAN
Kesusastraan merupakan seni yang menggunakan kata-kata untuk mencerminkan realitas secara obyektif seperti aktivitas psikologis. Ini bagian penting dari suatu kebudayaan. Kriteria kesusastraan klasik terletak pada nilai sastra dan pewarisannya. Kandungan maknanya memainkan peran sebagai panutan, inspirasi dan keabadian. Manifestasi kesusastraan klasik dapat diringkas dalam kategori sebagai berikut: pikiran yang menghubungkan masa jauh lampau, menjelajahi hukum Langit, melihat ke dalam maupun ke luar, menjelajahi misteri, membuat keilahian menjadi hal yang kekal, dan menampilkan keabadian.
Fungsi sastra bagi hidup dan kehidupan manusia adalah :
1.      Fungsi reaktif, yaitu fungsi atau manfaat memberikan rasa senang,gembira, dan menghibur
2.       Fungsi didaktif, yaitu fungsi atau manfaat mengarahkan dan mendidikpembaca karena mengandung nilai-nilai moral
3.       Fungsi estetika, yaitu fungsi atau manfaat yang dapat memberikankeindahan bagi pembaca karena bahasanya yang indah
4.       Fungsi moralitas, yaitu fungsi atau manfaat yang dapat membedakanmoral yang baik dan tidak baik bagi pembacanya karena sastra yang baikselalu mengandung nilai-nilai moral yang tinggi
5.       Fungsi religiusitas, yaitu fungsi atau manfaat yang mengandung ajaran-ajaran agama yang harus diteladani oleh pembaca
·        Karya sastra besar memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup.
·         Karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Jadi hiburan yang diberikan adalah hiburan spiritual dan intelektual yang menurut banyak orang kadarnya lebih tinggi daripada kebahagiaan badani.
·         Karya sastra besar itu karya seni dan memenuhi kebutuhan naluri manusia terhadap keindahan. keindahan adalah kodrat manusia.
·         Karya sastra yang besar memberikan penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui.
·        Membaca karya sastra besar menolong menjadikan pembacanya menusia berbudaya. Maksudnya manusia yang responsif/peka/bereaksi terhadap hal-hal yang luhur, yang baik dalam hidup ini.Jenis-jenis Karya sastra
§         Karya sastra fiksi
§          Karya sastra non fiksi.Persamaan dan Perbedaan karya sastra fiksi dan non fiksi:Persamaan -> dua-duanya mempunyai estetika seni (keutuhan, harmony, fokus, balance)
.Perbedaan  Karya sastra fiksi cenderung imajinatif, sedang non fiksi cenderung berupa fakta Bahasa yang digunakan bermakna konotatif/kias, non fiksi bahasa yang digunakan bahasa ilmiah.Jenis Karya sastra non fiksi/non imajinatif: Essai, Kritik, Biografi, Autobiograf, Sejarah, Memoar,  Catatan harian,  Surat-suratJenis Karya Imajinatif:
1. Prosa
2. Puisi
Untuk menambah pemahaman tentang pengertian sastra, sebaiknya dikaji beberapa pendapat berikut:
1. Secara etimologis,Sastra berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti buku. Kata sastra ini selanjutnya mendapat imbuhan su- dari Bahasa Jawa yang berarti baik. Sehingga susastra mempunyai arti buku yang baik. Dan kata susastra ini mendapat imbuhan ke-an menjadi kesusastraan yang berarti buku atau tulisan yang baik.
2. Dalam Kamus Besar Bahasa IndonesiaSastra adalah karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan, dalam isi dan ungkapan.
3. Menurut Ayip RosidiSastra atau kesusastraan adalah suatu karya berupa hikayat, syair, pantun, dan karya lainnya yang indah-indah.
4. Menurut IbrahimSastra atau kesusastraan adalah hasil seni yang merupakan hasil cipta manusia yang mengekspresikan pikiran, gagasan, pemahaman, tanggapan, perasaan, penciptaan, tentang kehidupan dengan bahasa yang imajinatif dan emosional
.5. Menurut Liberatus Tengsoe TjahjonoSastra dapat dikatakan sebagai ungkapan rasa estetis manusia dengan memakai bahasa indah sebagai alat ekspresinya
Pada tahap interpretasi, terjadi kegiatan mendalami pemahaman yang diperoleh melalui kegiatan komprehensi yang relatif masih tersurat pada proses analisis untuk menyusun suatu kesimpulan. Pada tahap evaluasi, terjadi kegiatan memilih satuan-satuan gagasan yang memadai maupun tidak memadai sesuai dengan tujuan yang akan menghasilkan pemberian kriteria. Keragaman masyarakat inilah yang mengakibatkan munculnya keragaman dalam kegiatan mengapresiasi karya sastra. Dan keragaman kegiatan mengapresiasi karya sastra ini pula yang menimbulkan berbagai tingkatan manfaat setelah membaca karya sastra. Manfaat secara UmumManfaat membaca karya sastra secara umum merupakan manfaat membaca karya sastra yang diperoleh oleh pembaca pada umunya.
 Manfaat membaca ini diperoleh melalui kegiatan generalisasi, yaitu kegiatan yang merupakan pembentukan kesimpulan umum dari suatu kejadian atau suatu hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra.Jadi kegiatan membaca karya sastra pada masyarakat umumnya dilakukan sekedar membaca, bukan melakukan apresiasi sebagaimana pengapresiasian karya sastra pada umumnya. Dan kegiatan membacanya pun melahirkan kegiatan mengapresiasi yang mudah hilang.Dengan demikian, kegiatan membaca sebagian besar masyarakat hanya dilakukan melalui generalisasi, tanpa apresiasi sebenarnya. Kegiatan generalisasi ini hanya akan melahirkan sebuah kesimpulan umum tentang suatu kejadian atau hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
Dan kesimpulan umum ini biasanya akan mudah hilang.Hal itu terjadi karena kegiatan membaca yang dilakukan merupakan aktivitas secara santai, misalnya sambil menanti seseorang atau sesuatu yang tak kunjung datang. Atau sebagai penghibur rasa kantuk ketika berjaga. Atau kadangkala karena memang tidak ada pekerjaan lain.Membaca karya sastra dengan cara seperti itu menunjukkan bahwa pembaca tidak berada dalam situasi dan kondisi yang bersungguh-sungguh, tidak serius, dan tidak konsentratif. Sehingga nilai apresiatifnya pun tidak ada.Dalam kondisi seperti itu, pembaca cukup merasa puas bila seseorang atau sesuatu yang tak kunjung datang ternyata telah berada di hadapannya. Atau rasa kantuk ketika berjaga hilang. Atau terpenuhinya kesibukan karena tidak ada pekerjaan lain.Untuk Memperoleh hiburanManfaat membaca karya sastra secara umum yang kedua adalah untuk memperoleh hiburan.
 Manfaat ini pun diperoleh sebagian besar masyarakat pembaca karya sastra. Manfaat ini pun biasanya diperoleh cukup melalui kegiatan generalisasi. Kegiatan generalisasi ini hanya akan melahirkan sebuah kesimpulan umum tentang suatu kejadian atau hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Dan kesimpulan umum ini biasanya akan mudah hilang juga. Pembaca cukup puas bila mengetahui jalan ceritanya dan akhir dari rangkaian kehidupan para tokohnya.Sampai saat ini masih cukup banyak remaja yang senang membaca novel, komik, atau cerita. Seringkali kita jumpai di sekolah pun secara sembunyi-sembunyi mereka membawa buku-buku semacam itu untuk dibacanya. Dan mereka berkilah karena hobi. Padahal sebenarnya semua itu didorong oleh rasa untuk memperoleh hiburan melalui aktivitas membaca.Karena tujuannya hanya untuk memperoleh hiburan, maka nilai apresiasinya pun kurang. Mereka tidak berusaha mencerna secara mendalam, mereka telah cukup puas bila telah mengetahui jalan ceritanya dan akhir dari rangkaian kehidupan para tokohnya.
Manfaat secara khusus karya sastra secara umum dapat diperoleh cukup melalui kegiatan generalisasi. Dan melalui kegiatan generalisasi ini, manfaat yang dirasakan pembaca karya sastra hanya berkisar sebagai pengisi waktu luang dan untuk memperoleh hiburan.Padahal bila ditinjau dari kompleksitas aspek yang terkandung dalam suatu karya sastra, membaca karya sastra harus memperhatikan tiga elemen yang oleh Olsen diistilahkan dengan aesthetic properties, aesthetic dimension, dan aesthetic object.Aesthetic properties berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik suatu karya sastra. Aesthetic dimension berhubungan dengan dimensi keindahan yang terkandung oleh suatu karya sastra. Dan aesthetic object berhubungan dengan kemampuan karya sastra untuk dijadikan objek kegiatan manusia dengan keanekaragaman tujuan yang ingin dicapainya..Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa membaca karya sastra memiliki beberapa manfaat secara khusus. Beberapa manfaat membaca karya saastra secara khusus ini antara lain adalah; untuk mendapatkan informasi, sebagai media pengembang dan pemerkaya pandangan kehidupan, dan untuk memberikan pengetahuan nilai sosio-kultural dari zaman atau masa karya sastra itu dilahirkan.Untuk Mendapatkan InformasiBerbeda dengan kedua manfaat membaca karya sastra secara umum yang sekedar pengisi waktu luang dan pemberi hiburan, manfaat membaca karya sastra secara khusus yang berfungsi untuk mendapatkan informasi ini diperoleh tidak sekedar melalui generalisasi, akan tetapi diperoleh melalui tahapan apresiasi terhadap karya sastra itu sendiri.
Sumber : http://www.yousaytoo.com/sastra/1830415


MANUSIA DAN CINTA KASIH
1.      Arti Cinta Kasih
Cinta kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang dan kemesraan. Belas kasihan dan pengabdian. Cinta kasih yang disertai dengan tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan.
Apabila dirumuskan secara sederhana, cinta ksih adalah perasaan kasih sayang, kemesraan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya akibat yang baik, positif, berguna, saling menguntungkan, menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kebahagiaan.

2.      Macam Cinta Kasih
Adanya beberapa macam cinta kasih, yaitu sebagai berikut :
a.       Cinta kasih antar orang tua dan anak. Orang tua yang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan anaknya, berarti mempunyai rasa cinta kasih terhadap anak. Mereka selalu mengharapkan agar anaknya menjadi orang baik dan berguna dikemudian hari.
b.      Cinta kasih antara pria dan wanita. Seseorang pria menaruh perhatian terhadap seorang gadis dengan perilaku baik, lemah lembut, sopan, apalagi memberikan seuntai mawar merah, berarti ia menaruh cinta kasih terhadap gadis itu.
c.       Cinta kasih antara sesama manusia. Apabila seorang sahabat berkunjung ke rumah kawannya yang sedang sakit dan membawa obat kepadanya berarti bahwa sahabat itu menaruh cinta kasih terhadap kawannya yang sakit itu.
d.      Cinta kasih antara manusia dan Tuhan. Apabila seorang taat beribadah, menurut perintah Tuhan, dan menjauhi larangan-Nya, orang itu mempunyai cinta kasih kepada Tuhan penciptanya.
e.       Cinta kasih manusia terhadap lingkungannya. Apabila seseorang menciptakan taman yang indah, memelihara taman pekarangan, tidak menebang kayu di hutan seenaknya, menanam tanah gundul dengan teratur, tidak berburu hewan secara semena-mena atau dikatakan bahwa orang itu menaruh cinta kasih atau menyayangi lingkungan hidupnya.
Demikianlah, berbagai contoh perilaku manusia yang melukiskan cinta kasih sebagai kebutuhan kodrati manusia.

3.      Ungkapan Cinta Kasih
Cinta kasih adalah ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan tingkah laku, seperti dengan kata-kata, tulisan, gerak, atau media lainnya. Ungkapan dengan kata-kata atau pernyataan, misalnya ungkapan. Aku cinta padamu. Ungkapan dengan tulisan, misalnya surat cinta, surat ibu kepada putrinya. Ungkapan dengan gerak, misalnya salaman, pelukan, ciuman dan rangkulan. Ungkapan dengan media, misalnya setangkai bunga, benda suvenir dan benda kado. Ungkapan-ungkapan ini selain dalam bentuk nyata, juga dalam bentuk karya budaya. Misalnya seni suara, seni sastra, seni drama, film, dan seni lukis.
Orang yang mempunyai perasaan cinta kasih, hidupnya penuh gairah, banyak inisiatif, dan penuh kreatif. Bagi seniman perilaku cinta kasih dituangkan dalam bentuk karya budaya sehingga dapat dinikmati pula oleh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat memetik nilai-nilai kemanusiaan yang terungkap melalui karya budaya itu.

B.     MANUSIA DAN PENDERITAAN
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa Sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya termasuk penderitaan ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain.
Al Qur’an maupun kitab suci agama lain banyak menguraikan penderitaan manusia sebagai peringatan bagi manusia.
Hampir semua karya besar dalam bidang seni dan filsafat lahir dari imajinasi penderitaan. Epos Ramayana dan Maha Bharata merupakan salah satu contoh cerita yang penuh penderitaan.
Karya Shakespeare pun banyak mengungkapkan penderitaan batin yang dialami para pelakunya. Dalam drama Romeo and Juliet, Shakespeare ingin mengomunikasikan penderitaan batin dua remaja yang sedang dilanda cinta. Kedua orang tuanya saling bermusuhan, sehingga tak mungkin bagi mereka untuk melangsungkan cintanya sampai jenjang perkawinan. Betapa terharu dan pilu hati pembaca atau penonton (film) menyaksikan ketragisan kedua remaja itu yang berakhir dengan kematian. Di sini kita dihadapkan pada pihak-pihak yang dicekam oleh harga diri yang palsu atau lebih tepat kesombongan orang tua. Karena sifat dan sikap yang congkak itu, anak mereka sangat dicintai menjadi korban.
Dalam riwayat Nabi Muhammad Saw. pun, diceritakan bahwa beliau dilahirkan sebagai anak yatim dan kemudian yatim piatu, yang dibesarkan kakeknya kamudian pamannya. Beliau menggembala kambing, bekerja pada orang dan sebagainya. Bahkan sebagian besar hidupnya mengalami penderitaan yang luar biasa.
Dalam riwayat hidup Budha Gautama, yang dipahatkan dalam bentuk relief pada dinding candi Borobudur kita juga melihat adanya penderitaan. Meskipun berupa relief, hati kita dan haru pada saat melihatnya. Seorang pangeran (Sidarta) yang meninggalkan istana yang bergemerlapan masuk hutan menjadi bhiksu dan makan dengan cara mengemis, mengembara di hutan yang penuh penderitaan dan tantangan.
Kalau kta baca buku riwayat hidup orang besar, semuanya dimulai dengan penderitaan. Hamka, mengalami penderitaan yang hebat pada masa kecilnya, hingga ia sempat mengecap sekolah kelas II saja. Namun ia mampu menjadi orang terkenal, orang besar pada zamannya, berkat perjuangan hidupnya melawan penderitaan.
Contoh lainnya adalah Bung Hatta, yang beberapa kali menjalani pembuangan di tengah hutan Irian Jaya yang penuh belukar dan penyakit, namun Tuhan tetap melindunginya sehingga ia dapat menjadi pemimpin bangsanya.
Pada waktu kita membaca riwayat hidup para tokoh itu, kita dihadapkan pada jiwa besar, harga diri, berani karena benar, rasa tanggung jawab, semangat membaca, dan sebagainya. Semua itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Di sana tidak kita temui jiwa munafik, plin-plan, cengeng, dengki, iri, dan sebagainya.
 1.      Siksaan
Apabila berbicara tentang siksaan, terbayang di benak kita sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan mendirikan bulu kuduk kita. Di dalam benak kita, terbayang seseorang yang tinggi besar, kokoh kuat dan dengan muka yang seram sedang memegang cemeti yang siap mencambukkan tubuh orang yang akan disiksa; atau ia memegang tang dan siap mencopot kuku-kuku orang yang disiksa. Mungkin juga si penyiksa sedang merokok dan bermaksud untuk menyulut sekujur tubuh orang yang sedang disiksa. Semua itu dengan maksud agar orang yang disiksa itu memenuhi permintaan penyiksa atau sebagai perbuatan balas dendam.
Siksaan semacam itu banyak terjadi dan banyak dibaca di berbagai media massa. Bahkan kadang-kadang ditulis di halaman pertama dengan judul huruf besar, dan disertai gambar si korban.
Siksaan manusia juga menimbulkan kreativitas bagi orang yang pernah mengalami siksaan atau orang lain yang berjiwa seni yang menyaksikan langsung atau tak langsung. Hal itu terbukti dengan banyaknya tulisan, baik berupa berita, cerpen ataupun novel yang megisahkan siksaan. Dengan membaca hasil seni yang berupa siksaan, kita akan dapat mengambil hikmahnya. Karena kita dapat menilai arti manusia, harga diri, kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, tetapi juga hati yang telah dikuasai nafsu setan, kesadisan, tidak mengenal perikemanusiaan, dan sebagainya.
Kita dapat menilai diri kita sendiri, di mana kita berdiri, di mana kita berpihak, dan sejauh mana ketakwaan kita.
 2.      Rasa Sakit
Rasa sakit adalah rasa yang penderita akibat menderita suatu penyakit. Rasa sakit ini dapat menimpa setiap manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tua-muda, berpangkat atau rendahan tak dapat menghindarkan diri darinya. Orang bodoh atau pintar, bahkan dokter sekalipun.
Penderitaan, rasa sakit, dan siksaan merupakan rangkaian peristiwa yang satu dan lainnya tak dapat dipisahkan merupakan rentetan sebab akibat. Karena siksaan, orang merasa sakit; dan karena merasa sakit, orang menderita. Atau sebaliknya, karena penyakitnya tak sembuh-sembuh, ia merasa tersiksa hidupnya, dan mengalami penderitaan.
3.      Neraka
Berbicara tentang neraka, kita selalu ingat kepada dosa. Juga terbayang dalam ingatan kita, siksaan yang luar biasa, rasa sakit dan penderitaan yang hebat. Jelaslah bahwa antara neraka, siksaan, rasa sakit, dan penderitaan terdapat hubungan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Empat hal itu merupakan rangkaian sebab-akibat.
Manusia masuk neraka karena dosanya. Oleh karena itu, bila kita berbicara tentang neraka tentu berkaitan dengan dosa. Berbicara tentang dosa juga berbicara tentang kesalahan.
Dalam Al Qur’an banyak ayat yang berisi tentang siksaan di neraka atau ancaman siksaan. Surat-surat itu antara lain surat Al-Fath ayat 6 yang artinya:
Dan supaya mereka menyiksa orang-orang  yang munafik laki-laki dan perempuan, oang-orang yang musyik laiki-laki dan perempuan yang mempunyai persangkaan jahat terhadap Allah. Mereka mendapat giliran buruk. Allah memurkai mereka, dan menyediakan neraka Jahanam baginya. Dan neraka Jahanam itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (Q.S. Al-Fath : 6)