Senin, 27 Januari 2014

Perkembangan Teknologi Animasi di Indonesia




Perkembangan Teknologi Animasi di Indonesia
            Keterbatasan infrastruktur dan masih minimnya apresiasi terhadap seni visual di Indonesia tidak banyak membantu berkembangnya teknologi animasi yang lebih jauh dalam bidang kreatif. Bahkan untuk film animasi dengan teknik komputer biasa saja masih jarang sekali ditemukan. Film animasi Indonesia yang sempat ada dulu juga tidak lagi ditayangkan secara umum Film animasi berseri atau kartun ala Indonesia juga tidak ditemukan. Tetapi, setelah kemunculan Upin dan Ipin yang dibuat oleh negara tetangga kita, Malaysia, industri kreatif mulai tergerak untuk mengembangkan teknologi animasi lagi. Di TVRI pada tahun 2008 kemudian muncul kartun Kabayan Lip Lap yang asli dibuat oleh orang Indonesia.
Walaupun demikian, sebenarnya di Indonesia sudah cukup banyak acara dan komunitas yang berkaitan dengan teknologi animasi yang dapat diacungi eksistensi dan karyanya. Salah satu dari festival besar Indonesia untuk perayaan dan ajang unjuk gigi dalam membuat animasi adalah HelloFest Motion Picture Arts Festival yang diadakan setiap taun dari tahun 2004. Festival ini dari tahun ke tahun semakin besar dengan semakin banyak partisipan dalam pengumpulan film pendek dan animasinya. Terdapat pula sebuah video animasi yang dibuat oleh seorang animator dari Solo berjudul Lakon Pada Suatu Ketika, yang disebut-sebut sebagai ‘Harapan Animasi Indonesia’, melihat teknik animasinya yang tidak kalah dengan produksi film animasi ternama.
Tidak hanya diakui di dalam negeri, animator Indonesia pun sudah ada yang terjun langsung ke Hollywood dalam pembuatan film animasi ‘Tintin’. Antusiasme akan perkembangan teknologi animasi juga ditunjukkan dari banyak pihak, salah satunya adalah seorang penulis novel, Andrea Hirata, yang menantikan bukunya dijadikan film atau seri animasi. Di daerah-daerah tertentu di Indonesia, seperti di Yogyakarta, bisnis game dan animasi mulai meningkat. Di Yogyakarta saat ini semakin banyak muncul komunitas game dan animasi lokal. Jika tren ini dipertahankan, bukannya tidak mungkin Indonesia akan menyusul negara-negara lain yang mengembangkan teknologi animasinya hingga sampai saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar