Euforia
Piala Dunia
Indonesia mungkin memang benar adalah bukan
negeri sepakbola, melainkan negeri suporter sepakbola.Dari ujung perkotaan
hingga pelosok pedesaan seakan tak ada hentinya orang membicarakan Piala Dunia.
Stasiun televisi dan radio sibuk membuat acara nonton bareng. Berbagai
komunitas juga ikut ambil bagian ingin mengadakan nonton bareng. Bahkan, tak
menampik kemungkinan nanti di Istana Cikeas pun diadakan nonton bareng.
Semuanya larut dalam satu euforia Piala Dunia, tak memandang pria atau wanita,
kaya atau miskin, tua atau muda, pejabat atau rakyat.
Terkadanga
sering terjadi dampak negatif yang ditimbulkan biasanya tak jauh-jauh dari kata
“kesiangan” dan “ngantuk” karena begadang menyaksikan pertandingan. Tentu hal
ini dapat merugikan diri sendiri maupun produktifitas di tempat kerja atau
produktifitas di tempat belajar bagi yang masih sekolah/kuliah. Namun tuan
rumah perhelatan akbar tahun ini adalah negara Brazil, dengan perkiraan waktu
banyak pertandingan yang dilangsungkan pada pagi hari antara pukul 5-7 WIB,
tentu merupakan waktu yang mungkin kurang pas bila diadakan acara nonton
bareng, mengingat pagi harinya adalah sudah merupakan jam beraktifitas.
Lantas bagaimana menyiasatinya? Membolos
sekolah atau kerja hanya demi menonton tayangan langsung, bukanlah solusi yang
dianjurkan bagi para gila bola. Tidak semua pertandingan kita anggap seru dan
wajib kita tonton bukan? Untuk itu, pandai-pandai diri kita memperhatikan
jadwal agar dapat memilih pertandingan mana yang sebaiknya kita utamakan untuk
disaksikan. Mulai dari memperhatikan jadwal tim favorit, pertandingan big-match, dan
pertandingan yang menentukan. Jangan sampai hobi kita sebagai pecinta tayangan
sepakbola berkualitas kelas dunia sampai merusak harmonisasi di tempat kerja
atau tempat belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar